Api yang indah

Dahulu kala di negeri Cina, jiduplah seorang laki-laki cerdas bernama Ming. “Kapan aku bisa bersekolah seperti kakak?” tanyanya selalu pada ibunya . ming selalu merasa iri setiap kali melihat kakaknya berangkat kesekolah. “Nanti.” Ibunya terseyum lembut. “Kalau usiamu sudah cukup.” Ming tidak sabar menunggu. Suatu hari ia pergi kesekolah Guru Hung . Guru hung terkenal bijak dan menjadi kesayangan Raja. Hanya anak pandai dan cerdas yang diterima menjadi muridnya. “izinkan aku menjadi muridmu, Guru,” kata Ming setelah member hormat. “Aku ingin mengikuti semua pelajaranmu.” Guru Hung menatap Ming sambil tersenyum. “Kembalilah tahun depan,” katanya sambil menutup pinntu sekolahnya. Ming melongo tak percaya. Begitulah setiap hari Ming dating meminta untuk menjadi murid Guru Hung. Lama-kelamaan Guru Hung menjadi kesal. “Baiklah,” kata Guru Hung melihat kegigihan Ming. “Aku akan menerimamu menjadi muridku kalau kau bisa mencari jawaban ‘api yang indah’ Nah, sekarang pulanglah, dan carilah jawaban pertanyaanku itu.”

Ming pulang dengan gembira, hari sudah senja Ming melihat obor yang menerangi halaman rumah. Ah, itu pasti ‘Api yang indah.’ Hanya satu api bisa menerangi seluruh halaman rumah yang luas, piker Ming senang. Besok akan kubawa obor itu pada Guru Hung. Namun keesokkan paginya ketika Ming bangun, api diobor itu telah padam. Ming menangis. Ayahnya tertawa. “Ming, Ming.. api obor tidak dibutuhkan disiang hari. Tigasnya digantikan matahari.,” kata ayahnya. Ming kecewa. Ternyata obor bukanlah ‘api yang indah.’ Ming kedapur. Ia melihat api ditungku. Ming memperhatikann warnanya, biru, kuning, dan merah. Diatas tungku itu ibu Ming membakar ikan . ketika api ditungku ditambahi kayu, pai menjadi besar dan berkobar-kobar. Ini pasti ‘api yang indah.’ Itu, piker Ming. Bisa untuk makanan dan merebus minuman. Ming berlari kesekolah Guru Hung melaporkan ‘Api yang indah penemuannya. Yaitu api tungku! “itu bukan api yang indah Ming ,” Guru Hung tersenyum “Pulanglah.” Ketika malam tiba, ayahnya menyalakan api diperapian agar ruangan menjadi hangat. Ming mendekati api di perapian. Warna dan bentuknya sama seperti api ditungku dan api obor. Ming mengambil kayu di perapian dan membiarkannya mati, akibatnya ruangan menjadi dingin. Ayahnya menegur Ming. Ming menambahkan kayu bakar keperapian. Namun karena kayunya terlalu banyak, ruangan menjadi panas. Ayahnya kembali memarahi Ming. Dengan muka penuh jelaga, Ming berlari kesekolah menemui Guru Hung. ‘Api yang Indah.’ Adalah api perapian karena bisa membuat ruangan menjadi hangat,”kata Ming. “Ah, kau hanya menemukan kegunaan api, Ming! Itu bukan ‘Api yang indah’ kata Guru Hung.

Ming pulang dengan kecewa. Malamnya Ming melihat lilin menyala didalam kamarnya. Api lilin menyala tenang menerangi seisi kamar. Inilah ‘Api yang indah.’ Piker Ming melihat bayangannya didinding. Ia memainkan tangannya membuat bayangan jerapah, kucing, burung, dan angsa didinding. Buru-buru Ming membawa api lilin itu ke Guru hung. Tapi ditengah perjalanan api itu padam. Ming sedih sekali. Akan tetapi, kesedihannya tak lama. Suara ramai orang-orang dipinggir jalan membuat nya tertarik. “Raja akan lewat!” seru orang-orang yang berkerumun. “Beliau akan kerumah Guru hung yang berulang tahun.” Dar!Der!Dor! petasan dinyalakan menyambut kedatangan Raja. Ada petasan besar yang meluncur keangkasa dan meledak dengan indah. Dar! Ming menganga takjub memandang keatas. Seketika dia sadar telah menemukan jawabannya. Dengan tergesa Ming menerobos rombongan Raja yang lewat. Pengawal Raja kalang kabut. “Tangkap anak itu!” teriak mereka. Tapi Ming lebih gesit ditemuinya Guru Hung yang berdiri didepan pintu sekolahnya, bersiap menyambut kedatangan Raja. “Guru, aku sudah menemukan jawabanya, “kata Ming terengah-engah setelah member hormat. Pengawal Raja yang tadi mengejar Ming langsung berhenti. “Disana,” Ming menunjuk ke angkasa . Guru hung mendongak, sebuah kembang api meledak dengan indah di langit malam. “Kembang api,” kata Ming dengan puas. Guru hung terkekeh senang. Sudah lama ia mengagumi kegigihan dan kecerdasan Ming. Namun karena usia Ming yang masih muda, Guru hung ragu Ming bisa mengikuti pelajarannya yang berat. “Ya, nak. Memang kembang api. Tapi jawaban mu tidak sepenuhnya benar. Yang benar adalah api semangat., Nak. Itulah api terindah didunia. Dan kau sudah memilikinya disini.” Guru Hung menunjuk dada Ming. “Dengan semangat, kau akan mengalahkan semua rintangan yang kau hadapi.” Guru Hung membuka pintu sekolahnya lebar-lebar dan mempersilahkan Ming masuk mendahului Raja.

 

 

Oleh Sophia Rodiah

Dikutip dari Majalah Bobo edisi 16 agustus 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s