Pemecah Rekor

Oleh Anna Charisna Gunandy

Menjadi anak bungsu memang tidak enak. Apalagi bungsu dari tiga kakak yang semuanya bintang kelas. Arial tidak merasa secerdas kakak-kakanya. Ia juga tidak pandai berolahraga, apalagi menyanyi. Rasanya aArial tidak punya satupun kelebihan untuk dibanggakan.

“Arial, siapa nama penemu pesawat terbang?” Ups! Arial menggoyang hidungnya. Pensil yang sejak lima belas menit yang lalu bertengger dihidungnya jatuh kemeja. “Sejak tadi ibu lihat kamu asyik bermain dengan pensil dan hidungmu,” tegur bu Yasniar masam. “Wright bersaudara, Bu,” sahut Arial keras. “Sekali lagi ibu lihat kamu menaruh pensil dihidungmu, ibu akan kirim kamu kesirkus,” ujar ibu Yaniar meskipun Arial telah menjawab pertanyaannya dengan benar.

Seisi kelas tertawa mendengar ucapan Bu Yaniar. Hidung Arial kembang kempis. Ia malu ditertawakan teman-temannya, malahan ia senang karena akhirnya ia punya satu kelebihan yang menarik perhatian orang. Tidak semua orang bias menaruh pensil di ujung hidungnya tanpa terjatuh dalam waktu yang cukup lama. “Lakukan lagi ,Arial “ pinta teman-temannya saat istirahat. Dengan senag hati Arial mengambil pensil dan meletakkan diujung hidungnya. Bagian pensil yang runcing menghadap keatas. Teman-temannya menghitung sambil menyemangatinya. Satu .. dua.. tiga.. empat belas… dua puluh… Teman-temannya terus menghitung. Hingga saat kembali pelajaran, pensil itu masih berdiri tegak dihidung Arial. Seisi kelas terkagum-kagum dibuatnya.

“Wow.. kamu bisa masuk Guinness Book’s of Record, Arial!” seru Tino girang. Guinnes book of… apa?”  “Guinnes book of record adalah buku yang mencatat hal-hal ajaib yang pernah dilakukan orang diseluruh dunia,” jelas Tino. “Kalau masuk buku itu, namamu akan terkenal diseluruh dunia.” Beberapa hari ucapan Tino terngiang-ngiang di benak Arial, ternyata untuk bisa terkenal tidak perlu sepintar kakak-kakaknya karena setiap orang punya kelebihan masing-masing. Selama berhari-hari Arial berlatih menyeimbangkan pensil diatas hhidungnya. Lama-lama ia bisa bertahan berjam-jam. Pada hari libur Arial bahkan tahan dari pukul delapan pagi sampai pukul jam tiga sore. Tino dengan setia mendampinginya, mengambilkan minum dan menggaruk bagian tubuhnya yang gatal. “Keren!” seru Tino kagum. Kalau saja Arial tidak keburu bosan, pensil itu tetap berdiri menjulang diujung hidungnya hingga malam hari. Akhirnya Tino meminta ayahnya yang bekerja sebagai wartawan ke guinnes book of record. “Rekor paling lama menahan pensil di ujung hidung sih belum ada, tapi kalau sendok sudah ada. Seorang bernama Carlos Estevas dari Guatemala berhasil menyeimbangkan sendok dengan posisi berdiri diujung hidungnya selama dua hari, lima jam, sembilam menit, empat puluh enam detik. “Wowwww…” sambut Tino dan Arial kagum. Tapi kita bisa mendaftarkan Arial ke museum rekor Indonesia.” “Ya, museum rekor Indonesia juga juga enggak apa-apa, yang penting terkenal,” sahut Arial malu-malu. Akhirnya pada saat yang dijanjikan, Arial didampingi oleh ayah ibunya, Tino dan ayahnya, mendatangi kantor MURI. Kedua orang tua Arial sebetulnya tidak terlalu senang dengan apa yang dilakukan Arial, tapi mereka tidak bisa menolak. Didepan Arial berdiri Pak Jaya Suprana direktur MURI dan tiga orang yang ditunjuk sebagai juri. “Siap, Arial?” Tanya pak Jaya memberikan sebatang pensil pada Arial. Pensil itu sudah diteliti oleh para juri dan orang yang menonton. Terbukti itu pensil biasa. Tidak ada lem ataupun tali. Hidung Arial juga sudah diteliti kering dan bersih. Arial mengangguk dan mulai berkonsentrasi. Pelan-pelan pensil ditaruh diatas hidungnya. Bagian yang ada karetnya dibawah, sedangkan bagian runcingnya keatas. “Ayo Arial, kamu bisaaa..” sorak Tino member semangat. Mula-mula hanya sedikit orang yang menonton akso Arial. Namun entah darimana datangnya ruangan itu hamper penuh dengan penonton. Tino mengelap keringat Ariak dengan hati-hati satu menit, dua menit, berlalu dengan cepat. Hingga tak terasa hamper satu jam Arial duduk dengan hidung mendongak menyangga pensil. Ibu Arial mulai khawatir. Ia memijit pundak Arial dengan takut-takut. Ketika hamper tiga jam Arial melakukan aksinya, ia mulai merasa lapar. Ayahnya menyuapkan pisang dengan sedok kemulutnya. Penonton mulai kagum dan mengelu-elukan Arial. Pukul dua belas siang Pak Jaya meninggalkan tempat. Ketika kembali pukul empat sore, Arial masih bertahan. Pukul lima sore Arial kebelet pipis. Terpaksa penonton disuruh keluar. Dengan dibantu ayahn ya Arial pipis dibotol. Pukul tujuh malam Arial mulai menguap. Tapi pensil itu masih bertengger kokoh diatas hidungnya. Pukul Sembilan malam Arial tak kuat lagi menahan kantuk. Matamya merem, tapi hidungnya tetap tegak menyangga pensil. Semua yang melihatnya deg-degan setengah mati. Tino yang lelah dan ngantuk luar biasa kembali semangat ketika melihat Arial membuka matanya pada pukul sebelas malam. Tino memberinya teh hangat dengan sedotan. “Pah, sudah aja, suruh dia berhenti,” bisik ibu Tino pada suaminya.  Ayah Arial meminta berhenti pada juri, tapi ditolak karena Arial bilang masih kuat. Tetapi pada pukul satu malam, kepala Arial terkulai kekursi dan jatuh tertidur dengan suara mendengkur dengan keras. Penonton bertepuk tangan dengan riuh, tapi tidak membuat Arial terbangun. Ibunya menangis terharu.ayahnya segera membopong tubuh Arial kedalam mobil dan membawanya pulang. Tino tak henti-hentinya member tahu pada penonton. “Arial teman sebangkuku… kami bersahabat sejak lama.” Keesokan harinya teman-teman sekelasnya menjenguk Arial dirumah. Termsuk Bu Yaniar. Mereka mengucapkan selamat pada Arial yang berhasil memecahkan rekor. Kinin Arial tidak minder lagi pada kakak-kakaknya  karena ia tahu ia juga punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s