Persahabatan

Oleh Titiel Limarty

Namanya Gerin. Aku an teman-temanku selalu memandanginya dengan aneh. Sebab ia selalu berjalan sambil menjinjitkan kaki. Kacamatanya super tebal, rambutnya selalu acak-acakkan, bajunya jugatak pernah rapi. Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Tapi keadaan membuatku iku-ikutan jahil kepadaya. Hari ini Gerin berjalan didepanku. Anak-anak lain tertawa mengejek gaya berjalannya. Gerin diam saja sambil mempercepat langkahnya. Ada sesuatu yang aneh dimatanya. Rasa kasihan tiba-tiba muncul dalam hatiku. Aku melihat Salman sengaja meletakkan kakinya agat Gerin tersandung. Aku berteriak tapi terlambat. Gerin terjatuh, dan semua tertawa. Aku muak dengan mereka semua. Kuhampiri Gerin, ku bantu berdiri, ku ambil buku-bukunya. “Terima kasih, Cika! Terima kasih,” kulihat matanya berair. Gerin pun berlalu sambil tertatih-tatih. Semua terdiam melihatku menolong Gerin. Cika seorang murid juara menolong Gerin si murid aneh! Tahun ajaran ini aku sekelas lagi dengannya . semua murid memakai perlengkapan sekolah baru, kecuali Gerin. Sepatu lusuhnya tetap menghiasi kakinya yang kurus. Tas biru yang robek sana-sini, menjadi teman setianya. “Cika, kamu mau duduk sebangku denganku?” tiba-tiba Gerin bertanya padaku didepan semua anak lain. Kulihat Lita dan Sasa tak bisa menahan tawa. “Maaf Gerin kamu duduk sama cowok saja. Aku kan malu!” tak terasa air mataku hamper keluar, leherku tercekat, sakit rasanya. “Tapi yang lain tidak akan mau duduk denganku Cika! Kamu lain, kamu baik!” ia berkata begitu sambil berlari pergi. Aku bingung! Ku amati Gerin yang sedang duduk sendiri. Timbul rasa kasihan. Tapi aku takut diejek. Sesaat kemudian aku teringat pesan mama, “Kalau berteman, jangan memandang wajah. Walau yang lain tidak suka, kamu harus punya sikap! Berteman atau tidak, turuti isi hatimu!” Haah, aku menghela napa. Kudekati meja Gerin, lalu duduk disebelahnya, diam. Gerin memandangiku tersenyum. Tiba-tiba aku melihat wajahnya kini cerah. Tak terasa akupun ikut tersenyum. Setahun ini bagaikan neraka bagi Gerin dan aku. Persahabatan kami menimbulkan gossip. Teman-teman selalu mengatakan kami pacaran. Gerin selalu diolok-olok. Tetapi sekarang Gerin lebih tegar. Ia selalu tersenyum. Gerin sering main kerumahku. Belajar bersama. Sekarang bahkan dia bisa menyusulku jadi ranking 2 dikelas. Banyak yang kagum, tapi tak jarang pula yang mengatakan Gerin menyontek. Menghadapi itu semua Gerin tetap diam. Malah aku yang sering emosi membela Gerin. Aku sering menasihatinya untuk merapikan rambutnya, bajunya. Kuberikan beberapa alat tulisku yang tidak terpakai. Kadang mama menitipkan kaos kaki baru untuk Gerin. Bahkan ketika ulang tahunnya yang ke-12, mama menghadiahkan sepatu. Sering kulihat matanya berkaca-kaca saat aku memberikan sepatu padanya. Ya, Gerin memang anak yang baik. Hanya saja teman-temanku tidak mengenalnya dengan baik seperti aku. Tahun ajaran ini sudah hamper selesai. Kami semua sibuk dengan persiapan masuk ke SMP. Teman sekelas kini sudah jarang mengganggu Gerin dan aku. Sambil duduk santai, dimeja kami. Aku bertanya padanya, “Kamu akan melanjutkan SMP dimana Ger?” “Ayah dan Ibu akan pulang kampong. Sepertinya kita akan berpisah Cika..” kulihat lagi matanya berkaca-kaca. “Gerin walaupun kita berpisah, tapi kita akan bersahabat selamanya.” Kupegang tangannya erat-erat. Mataku pun mulai basah. Gerin hanya diam dan menatapku. Tiba-tiba aku merasa kehilangan sahabat terbaikku.

Sekarang, 20 tahun telah berlalu. Aku sudah dewasa dan menjadi guru di sekolah swasta. Sekarang sahabatku itu telah menjadi dokter Gerin. Sampai saat ini kami msih tetap saling mengirim surat. Persahabatan yang sangat berharga bagi kami berdua. Hari ini ketika aku membaca majalah, mataku tertumbuk pada sebuah artikel tentang dokter Gerin yang berprestasi. Hmm hebat sekali dia, pikirku senang. Kubaca artikelnya penuh semangat. Semakin lama aku membaca, matakupun memanas oleh air mata. “… Dulu waktu saya kelas 5 SD, saya sudah hamper putus asa. Kemiskinan membuat saya putus asa. Tidak ada yang peduli padaku. Teman, guru,orang tua. Saya memutuskan untuk lari dari rumah, lari dari sekolah… hari itu saya sudah mempersiapkan semuanya. Sepulang sekolah saya berencana untuk pergi entah kemana! Seperti biasa ada seorang teman yang mengganggu. Dia menyandung kaki saya. Hati ini semakin mantap untuk pergi. Tetapi tiba-tiba sebuah tangan terulur membantu saya berdiri, mengambilkan buku0buku dan tersenyum! Saya sangat terkejut. Tidak pernah ada yang memperlakukan saya dengan baik seperti itu sungguh tak terlupakan. Saya membatalkan niat untuk lari. Saya mencoba bertahan karena sahabat saya itu. Sampai sekarang dia menjadi sahabat terbaik saya. Saya sangat berterima kasih padanya. Makanya anak pertama saya dinamakan sesuai namanya. Cika Andasari. Terima kasih Cika! Kamu adalah sahabat yang mengubah hidup saya…” aku tak bisa melanjutkan bacaanku. Mataku penuh air mata. Tak pernah kubayangkan kejadiannya seperti itu. Aku hanya bermaksud menolng. Bagaimana dengan teman-teman? Semoga kalian juga dapat menjadi seorang sahabat yang baik bagi orang lain!

 

Dikutip dari majalah bobo edisi 11 Agustus 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s