Penyesalan Oleh W.E

Fany adalah murid biasa. Tidak pintar, tidak pandai berolahraga, tak bisa menyanyi, kadang ia merasa tidak memiliki hal yang bisa ia banggakan agar dipuji oleh teman-temannya.

Mungkin sebagian orang berfikir bahwa lia adalah gadis yang sangat beruntung, Ia pintar, dan memiliki wajah yang cantik. Ia juga memiliki banyak teman yang menyukainya, padahal sikapnya tidak begitu baik. entah karena memang ingin tulus untuk berteman atau hanya untuk memanfaatkan kepintarannya saja, itulah yang selalu dipikirkan Fany. Bukan bermaksud untuk iri atau apa, tapi seperti itulah yang ia lihat, Fany melamun, “kapan ya, aku bisa seperti Lia, guru-guru selalu memujinya, sedikit-sedikit Lia, apa-apa Lia, selalu ia yang disbanding-bandingkan”. Bisik hati Fany tanpa sadar kalo sedaritadi Pak Guru sudah memanggilnya tiga kali untuk mengerjakan soal fisika kedepan kelas.

Sampai akhirnya Pak Guru menghampirinya, “Fany !! kalau ingin melamun keluar saja! Tidak usah ikut pelajaran saya!” hardik Pak Guru “iya, iya pak!” Fany langsung maju kedepan kelas untuk mengerjakan soal itu meskipun sebenarnya ia tidak bisa mengerjakannya. Bel pun berbunyi, waktu istirahatpun telah tiba, seperti biasa Lia selalu mencemooh aku karena tidak bisa mengerjakan soal. “Please dehh,, ngerjain kaya gitu aja ga bisa, lo mau gua ajarin?? Tapi.. ga usah dehh.. entar lo pinter lagi.. hhaha” kata Lia sambil berlalu dengan teman-temannya. Aku hanya bisa mengelus dada, “Memang aku ga sepintar dia, tapi ga seharusnya juga dia ngomong kaya gitu”, aku terus mendumel sendiri sampai Johan menepuk pundakku sampai aku kaget, “Woii bibir tuh panjang lama-lama, ngedumel aja kerjaannya, makanya belajar.. huu (sambil mencubit pipiku gemas)” hibur Johan “Ahh,, berisik mending kamu mau ajarin aku Jo.. huu” kataku kesal “Hahaha emangnya kamu bilang, kalo kamu minta aku ajarin.. aku kira kamu bisa, lagaknya aja kayak yang pinter aja” ledek Johan “oh, jadi kamu ga mau ajarin?? Yaudah sana ngalang-ngalangin jalan aku aja udah sana!” kataku tambah kesal “hahaha gitu ajah ngambek.. iya.. iya.. aku ajarin huu” kata Johan sambil berlari mengikutiku.

Hubunganku dengan Johan memang sangat akrab, banyak yang bilang kalau kita berdua pacaran. Tapi itu ga bener kita berdua hanya berteman. Teman akrab! Bahkan terkadang, aku menganggap ia seperti abangku sendiri, maklum aku anak tunggal. Ya.. hanya ia lah yang menjadi sahabat setiaku, kami selalu bersama, mengerjakan PR bersama, jalan-jalan bersama, ia selalu membantuku, ketika aku dalam kesulitan. Tapi teman-teman selalu mengira kalau kita berdua itu pacaran. Terlebih lagi Lia dan teman-temannya, setiap kali bertemu aku ia selalu ngompor-ngomporin kalau temannya itu mantan pacar Johan lah atau tadi ketemu Johan lagi jalan sama Tasya lah, padahal meskipun berita itu benar, apa hubungannya denganku? Toh aku juga tidak ada hubungan special dengannya. “hhh… anggap aja angin lalu!” bersitku dalam hati. Sampai akhirnya, Johan benar-benar menyatakan cintanya padaku, ternyata ia benar-benar memiliki perasaan suka terhadapku, aku bingung, aku tercengang mendengar ucapannya di telepon. “Udahan Fan bercandanya, ketawa mulu daritadi huu, Fan.. aku mau ngomong serius nih”, kata Johan “Apa? Ahh gayamu segala ngomong serius”, kata Fany sambil menyantap kerupuk pasir kesukaannya. “Aku suka sama kamu Fan, aku pengen kita punya hubungan khusus lebih dari berteman”, kata Johan dengan lembut. Fany tersedak mendengar perkataan Johan di telepon, aku menutup telepon dari Johan kemudian berlari menuju dapur untuk mengambil minum. Aku merasa sedih, bingung, sakit hati, karena merasa terbohongi, orang yang selama ini selalu bersamanya, dan menjadi sahabat terbaiknya, ternyata menginginkan sesuatu yang lebih dari dirinya. Ia mematikan handphone nya. Dan berusaha menghindar dari kenyataan. Tengah malam Fany menyalakan kembali hand phonenya, disitu ada sms dari Johan yang berisi, “Fan, aku ngerti kok maksud kamu, kalo kamu ga bisa terima aku, aku ga apa-apa kok. Kita kaya biasa lagi aja ya ga usah dipikirin kata-kata aku yang tadi ya. Aku ngertiin kamu kok J”, Fany sedih membaca sms itu, di hatinya yang terdalam, ia hanya menganggap Johan seperti kakanya sendiri, Johan sahabat baiknya.

Keesokkan harinya, keadaan mulai lain, aku dan Johan sama-sama canggung untuk mendekat, “aku malu” hanya itu yang ku rasakan. Begitupun Johan, ia jadi pendiam apalagi terhadap aku, tanpa sadar hubungan kami mulai menjauh, karena kami sama-sama selalu menghindar. Tak terasa 7 tahun telah terlewati, kami sudah lulus sekolah dan menjalani kehidupan masing-masing seperti tidak pernah terjadi perkenalan diantara kami berdua. Suatu ketika, aku ingin melamar pekerjaan di sebuah perusahaan asing di kota Surabaya, dengan semangat aku menuju keruang Supervisor di kantor tersebut. Dan begitu aku membuka pintu, “Johan..???” aku kaget setengah mati, orang yang selama bertahun-tahun aku hindari ternyata ada didepan mataku, dan kali ini tak dapat ku hindari lagi. “Ka.. kamu..??” kataku terbata-bata “yah Fany, aku Johan aku supervisor disini.” Kata Johan tersenyum, “Lama ya, kita ga bertatap muka kayak gini.” Sambung Johan. “iya.. kenapa kamu bisa di Surabaya? Bukannya kamu di..?” kataku bingung “Aku di Surabaya Fany, sejak kepindahan kamu ke kota ini aku merasa sepi, ga ada Fany ceroboh yang bibirnya panjang lagi, makanya aku susul kamu kesini. Aku juga satu kampus kok sama kamu, aku juga sering lihat kamu, mungkin kemu engga ya?” kata Johan panjang lebar, aku hanya tertunduk dan malu entah apa yang bisa kukatakan pada Johan, aku malu, aku.. “Fan.. Fany.. kok ngelamun?” Kata Johan. Aku tersentak, dari lamunan ku, tak terasa air mataku mulai  menetes. Johan mengelap pipiku dengan lembut, “kenapa kamu jadi cengeng begini sih?? Bukannya Fany yang dulu aku kenal itu galak ya?(sambil tersenyum)” hibur Johan. “kenapa sih kamu masih baik sama aku, aku udah nyakitin kamu Jo, aku udah..” kataku “sssttt,, (johan menutup bibirku dengan jarinya) kamu jangan ngomong gitu lagi ya, aku juga ga berniat buat marah sama kamu kok, aku juga ga maksa kamu buat jadian sama aku, aku Cuma pengen bisa liat kamu, bisa liat kamu senyum meskipun bukan sama aku. Udah itu aja” jelas Johan. Kata-kata Johan membuat air mayaku tambah deras. Dadaku sesak, dan tak tahu lagi apa yang harus ku katakan. “aku Cuma pengen adikku tersayang ini bahagia,” kata Johan sambil tersenyum. “makasih ya Jo”  kataku lirih. “udah kamu jangan sedih ya, kamu besok mau kerumah aku ngga? Nanti aku kenalin sama istri dan anakku! Mau ga? Mau dong.. ya.. ya..” bujuk Johan “istri ? anak? Kamu udah??” kataku bingung “iya, jangan kaget ya hhehe, masih ada lo yang mau sama abangmu ini hahaha” kata Johan bangga. Aku hanya bisa mengangguk, tadinya aku berpikir hubungan kami bisa seperti dulu lagi, dan kita bisa.. tapi, ya sudahlah yang penting abangku Johan sudah bahagia. Jadi ada sedikit penyesalan dihatiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s